Inijambi.com |  Ritas Mairiyanto telah resmi mengemban amanah sebagai nahkoda Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Provinsi Jambi. Penunjukan ini datang di saat yang tidak mudah. Alih-alih diberi ruang untuk konsolidasi dan pembenahan partai, Ritas justru langsung dihadapkan pada terpaan fitnah dan framing negatif yang disebarkan melalui akun-akun media sosial anonim.

Fenomena ini bukan hal baru dalam lanskap politik Indonesia, khususnya di daerah. Akun-akun tertentu kerap muncul dengan pola serangan seragam: menebar tuduhan, memelintir fakta, lalu menghilang setelah tujuan politisnya tercapai. Di ruang publik, akun semacam ini sering disebut sebagai “spesialis pembunuhan karakter”—alat politik kotor yang bekerja bukan dengan gagasan, melainkan dengan kebohongan.

Di titik inilah tantangan Ritas Mairiyanto menjadi berlapis. Ia tidak hanya dituntut membangkitkan kembali mesin politik Hanura di Provinsi Jambi yang sempat meredup, tetapi juga harus berperan sebagai agen edukasi digital di tengah masyarakat yang semakin rentan terhadap informasi palsu (hoaks). Politik hari ini tidak lagi sekadar adu program, melainkan juga perang persepsi di media sosial.

Baca Juga:  Pemuda Sebagai 'Agent of Change'

Serangan terhadap Ritas menunjukkan gejala politik tidak sehat. Ada aroma dendam politik yang dibungkus narasi moral, seolah-olah kritik, padahal sarat kepentingan. Tuduhan-tuduhan seperti pembangunan rumah di lahan sitaan KPK atau isu tidak dibayarkannya gaji pekerja kebersihan RSUD Jambi, hingga kini tidak pernah disertai bukti hukum yang sah. Isu-isu tersebut lebih menyerupai desain opini untuk merusak citra, bukan upaya mencari kebenaran.

Padahal, di mata banyak warga Jambi, Ritas Mairiyanto dikenal bukan sebagai elite yang berjarak. Rumahnya kerap terbuka untuk masyarakat kecil. Open house yang ia gelar bukan panggung pejabat, melainkan ruang warga miskin, buruh harian, hingga pengemis jalanan yang datang dengan harapan satu hal sederhana: dibantu agar bisa bertahan hidup. Bagi sebagian masyarakat bawah, Ritas adalah “ladang pekerjaan”, tempat bergantung ketika negara sering kali absen.

Baca Juga:  Legislatif Berkomentar, Eksekutif Bekerja: Retorika Yudi Haryanto Menyesatkan Publik

Dalam perspektif komunikasi politik, serangan semacam ini dapat dijelaskan melalui teori black campaign—kampanye hitam yang bertujuan menciptakan stigma negatif melalui isu emosional, bukan fakta. Di ruang digital, metode ini bekerja cepat karena algoritma media sosial lebih menyukai sensasi dibanding klarifikasi.

Namun sejarah politik menunjukkan satu hal: fitnah mungkin bising, tetapi kerja nyata lebih bergema dalam jangka panjang. Tantangan terbesar Ritas Mairiyanto hari ini bukan hanya membantah hoaks, melainkan membuktikan bahwa politik masih bisa dijalankan dengan nurani—sejalan dengan nama partai yang ia pimpin.

Jika Hanura Jambi ingin kembali berjaya, maka melawan politik kotor dengan politik kerja, serta melawan hoaks dengan literasi publik, adalah jalan yang tak terhindarkan. Dan di tengah hiruk-pikuk serangan digital, publik Jambi layak bertanya: siapa sebenarnya yang takut pada kebangkitan Hanura ?

Baca Juga:  Berebut Nahkoda Perahu PAN: Munculnya Sang Kuda Hitam 'Bima Audia Pratama'

Jangan mudah percaya pada narasi dan publikasi suatu informasi yang tak memiliki sumber resmi… ” Semua orang bisa dan boleh memiliki sebuah akun namun tidak benar jika digunakan untuk menjatuhkan serta menyebarkan informasi kebohongan kepada rakyat”