INIJAMBI. COM – Semakin keras fitnah diarahkan, semakin terbuka siapa yang panik dan siapa yang bekerja. Apa yang dialami RITAS Mairiyanto, Ketua DPW Partai Hanura Provinsi Jambi, bukan lagi kritik biasa, melainkan rangkaian narasi menyesatkan yang disusun secara sistematis untuk menjatuhkan nama baik dan kepercayaan publik terhadap dirinya. Namun fakta di lapangan justru berbicara sebaliknya: tuduhan runtuh satu per satu ketika diuji dengan data dan realitas.

Isu yang menyebut RITAS tidak membayarkan gaji petugas kebersihan RS Umum Daerah Jambi adalah tidak benar dan menyesatkan. Pembayaran gaji petugas kebersihan RSUD berada dalam mekanisme administrasi dan kontraktual yang jelas, bukan kehendak personal individu. Tidak pernah ada putusan hukum, teguran resmi, ataupun dokumen otoritatif yang menyatakan RITAS Mairiyanto menahan atau menghilangkan hak pekerja. Jika tuduhan itu benar, semestinya ada bukti formal, laporan hukum, atau pernyataan institusi. Faktanya, semua itu tidak pernah ada. Yang beredar hanyalah potongan narasi di media sosial, disebarkan oleh akun-akun tanpa identitas jelas, tanpa konfirmasi, tanpa tanggung jawab.

Baca Juga:  Difitnah dan Dizalimi, RITAS Pilih Tancap Gas Jemput Aspirasi Rakyat Jambi

Lebih jauh, masyarakat yang memahami langsung proses kerja dan administrasi di RSUD Jambi menyatakan bahwa isu tersebut dipelintir untuk tujuan politik, bukan untuk memperjuangkan kesejahteraan pekerja. Fitnah ini tidak berdiri di atas kepedulian, tetapi di atas kepentingan.

Tuduhan kedua bahkan lebih absurd. Disebutkan bahwa RITAS mendirikan rumah di atas lahan yang diklaim berplang KPK. Klaim ini terbukti hoaks secara kasat mata. RITAS Mairiyanto turun langsung ke lokasi yang dituduhkan. Tidak ditemukan satu pun plang KPK, tidak ada garis penyitaan, tidak ada penanda perkara, dan tidak ada pernyataan resmi dari KPK yang menyatakan lahan tersebut bermasalah. Warga sekitar lokasi menyaksikan langsung dan menyatakan bahwa narasi tersebut tidak sesuai dengan kondisi nyata. Jika benar lahan tersebut dalam status perkara, maka bukti fisik dan administratif pasti ada. Namun yang terjadi justru sebaliknya: tuduhan dibuat tanpa fakta, lalu disebar masif untuk menggiring opini.

Baca Juga:  Kembali Ke Balai ; Kesempatan Terakhir Romi Harianto

Pola dua isu ini identik: muncul dari akun anonim, tanpa data primer, tanpa verifikasi lapangan, dan disebarkan berulang untuk membentuk persepsi. Publik semakin paham bahwa ini bukan kebetulan, melainkan skenario politik kotor yang biasanya muncul ketika kerja nyata seseorang mulai dirasakan dan pengaruhnya menguat di tengah rakyat.

Di saat para penyebar hoaks sibuk bermain di dunia maya, RITAS Mairiyanto justru memilih tetap hadir di dunia nyata. Ia memperkuat kanal partisipasi publik melalui layanan Lapor Aspirasi Rakyat ke Bang RITAS yang bisa diakses terbuka oleh siapa pun melalui https://lynk.id/hanurajambi. Tidak ada yang ditutup, tidak ada yang disembunyikan. Rakyat dipersilakan berbicara, mengadu, dan menguji langsung.

Yang lebih kuat dari bantahan adalah kesaksian rakyat. Masyarakat yang merasakan langsung dampak kepedulian RITAS menyampaikan bahwa melalui jaringan relawan dan kerja-kerja sosial yang difasilitasi, banyak warga memperoleh akses kerja, bantuan usaha kecil, dan pendampingan sosial. Mereka berbicara bukan karena dibayar, tetapi karena mengalami. Inilah yang tidak bisa dibantah oleh akun palsu mana pun: realitas sosial di lapangan.

Baca Juga:  Dibalik Laza " Ada Cahaya", Pesona Kecerdasan Perempuan Anggun Berdarah Sulawesi

RITAS Mairiyanto tidak membangun citra dari baliho atau narasi kosong, tetapi dari relasi langsung dengan masyarakat. Ia tidak menjawab fitnah dengan amarah, tetapi dengan keterbukaan dan kerja yang bisa dicek siapa pun. Dalam politik, ini adalah bentuk perlawanan paling radikal: membiarkan fakta menghancurkan kebohongan dengan sendirinya.

Hari ini publik Jambi semakin cerdas. Mereka bisa membedakan mana kritik dan mana fitnah, mana kepedulian dan mana kepanikan. Fitnah boleh dibuat berulang, tetapi kebenaran tidak pernah berubah. Dan ketika kebenaran diuji di lapangan, yang runtuh bukan nama RITAS Mairiyanto, melainkan kredibilitas para penyebar hoaks itu sendiri.

Semakin difitnah, RITAS semakin tancap gas.

Bukan untuk melawan orang, tetapi untuk memenangkan kepercayaan rakyat.
Dan di Jambi, kepercayaan itu tidak dibangun dari kebohongan, melainkan dari kerja nyata yang bisa dilihat, dirasakan, dan dibuktikan.