INIJAMBI- Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia pada Februari 2026 tetap menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Nilai ekspor tercatat sebesar US$22,17 miliar atau tumbuh tipis 1,01 persen secara tahunan (year-on-year). Sementara itu, impor meningkat lebih tinggi sebesar 10,85 persen menjadi US$20,89 miliar sehingga menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar US$1,27 miliar.

Pengamat ekonomi asal Jambi, Noviardi Ferzi, menilai capaian tersebut mencerminkan struktur ekspor Indonesia yang masih relatif kuat, terutama ditopang sektor industri pengolahan dan komoditas unggulan. Ia menyebut ekspor nonmigas yang mencapai US$21,09 miliar menunjukkan kebijakan hilirisasi mulai berdampak nyata, terutama pada komoditas bernilai tambah seperti nikel, besi baja, dan produk turunan kelapa sawit.

Pengamat ekonomi asal Jambi, Noviardi Ferzi, menilai capaian tersebut mencerminkan struktur ekspor Indonesia yang masih relatif kuat, terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan dan komoditas unggulan.

Baca Juga:  Tiang Listrik posisi di Tengah Jalan dan Hampir Tumbang di Kelurahan Tanjung solok Kecamatan Kuala jambi

Ia menjelaskan, ekspor nonmigas yang mencapai US$21,09 miliar menunjukkan bahwa kebijakan hilirisasi mulai berdampak nyata terhadap kinerja perdagangan, khususnya pada komoditas bernilai tambah seperti nikel, besi baja, dan produk turunan kelapa sawit.

“Surplus perdagangan tetap terjaga karena dominasi ekspor industri pengolahan. Lonjakan ekspor CPO sebesar 26,4 persen dan nikel hingga 74,84 persen menegaskan kuatnya permintaan global terhadap produk hilirisasi Indonesia,” ujar Noviardi, Senin (6/4/2026).

Menurutnya, industri pengolahan kini menjadi tulang punggung ekspor nasional. Dari total ekspor Februari 2026, porsi terbesar berasal dari sektor nonmigas, sementara ekspor migas justru turun 9,75 persen menjadi US$1,08 miliar.

Di sisi lain, kenaikan impor dinilai tidak sepenuhnya negatif. Noviardi menilai lonjakan impor barang modal sebesar 34,44 persen dan bahan baku sebesar 9,27 persen mencerminkan peningkatan aktivitas industri domestik.

Baca Juga:  Tomas Tanjab Timur Thaib Haloes Himbau Masyarakat: Jangan Takut di Tekan,  Gunakan Hak Pilih Sesuai Hati Nurani

“Jika impor didominasi mesin, peralatan, dan bahan baku, itu berarti dunia usaha sedang berekspansi. Yang perlu diwaspadai adalah lonjakan impor barang konsumsi yang berpotensi menekan keseimbangan perdagangan,” katanya.

Secara kumulatif Januari–Februari 2026, ekspor Indonesia mencapai US$44,32 miliar, naik 2,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor tercatat sebesar US$42,09 miliar atau tumbuh 14,44 persen, sehingga menghasilkan surplus kumulatif US$2,23 miliar.

Surplus tersebut ditopang sektor nonmigas sebesar US$5,42 miliar, sementara sektor migas masih mencatat defisit US$3,19 miliar.

Namun demikian, Noviardi mengingatkan bahwa ketergantungan pada komoditas mentah masih menjadi tantangan struktural. Meski kinerja ekspor saat ini terdorong tingginya permintaan terhadap CPO, nikel, batu bara, dan besi baja, Indonesia perlu mempercepat diversifikasi ekspor untuk mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi harga global.

Baca Juga:  Harga Kelapa Dalam Turun, Perpekindo Jambi Geram dengan Larangan Ekspor

Ia juga menekankan pentingnya menjaga dan memperluas pasar ekspor utama seperti China, Amerika Serikat, dan India, yang menjadi kontributor terbesar ekspor nonmigas sepanjang awal 2026.

“China tetap menjadi pasar utama untuk besi baja dan nikel, sementara Amerika Serikat menunjukkan pertumbuhan signifikan untuk produk manufaktur seperti elektronik, alas kaki, dan tekstil. Momentum ini harus dimanfaatkan dengan memperkuat daya saing dan penetrasi pasar,” ujarnya.

Noviardi optimistis surplus perdagangan Indonesia masih dapat dipertahankan sepanjang 2026, meski berpotensi menyempit akibat tekanan impor, dinamika geopolitik, dan perlambatan ekonomi global.

Ia menegaskan, penguatan industri pengolahan dan ekspor bernilai tambah akan menjadi kunci menjaga stabilitas sektor eksternal ke depan.