Penurunan intensitas curah hujan dalam sepekan terakhir mulai berdampak pada munculnya titik panas (hotspot) di Provinsi Jambi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 124 hotspot tersebar di berbagai wilayah kabupaten sejak awal tahun hingga 26 Januari 2026.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas 1 BMKG Provinsi Jambi, Ibnu Sulistyono, mengungkapkan bahwa lonjakan titik panas ini dipicu oleh cuaca yang cenderung kering dalam beberapa hari terakhir. “Tercatat sejak 1 hingga 26 Januari ada 124 hotspot,” katanya pada Senin malam.
Data BMKG menunjukkan Kabupaten Tanjung Jabung Barat menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi. Berikut rincian sebaran 124 titik panas di Provinsi Jambi:
Tanjung Jabung Barat: 37 titik
Sarolangun: 25 titik
Merangin: 18 titik
Muaro Jambi: 17 titik
Tebo: 10 titik
Batanghari: 9 titik
Kerinci: 3 titik
Tanjung Jabung Timur: 3 titik
Bungo: 2 titik
Ibnu menjelaskan, titik panas tersebut muncul di kawasan lahan gambut maupun lahan mineral. Selain faktor alam, ia menyebut ada indikasi sumber api berasal dari aktivitas perusahaan.
” Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan karena BMKG memprediksi musim di tahun 2026 akan cenderung lebih panas dibandingkan tahun 2025 lalu,” tuturnya.
Kendati demikian, Ibnu menegaskan bahwa saat ini Jambi belum sepenuhnya memasuki musim kemarau.
“Belum (kemarau), saat ini masih masuk dalam periode musim hujan. Penurunan hujan sepekan terakhir bukan berarti peralihan musim,” jelasnya.
Berdasarkan prakiraan BMKG untuk periode 26 Januari hingga 1 Februari 2026, cuaca di Jambi secara umum akan berawan dengan potensi hujan ringan pada sore, malam, dan dini hari. Suhu udara diperkirakan berkisar 19-32 derajat Celcius dengan kelembapan 55-96 persen.
Selain ancaman kebakaran lahan, BMKG juga menyoroti potensi gangguan di wilayah pesisir. Meskipun gelombang laut di perairan Timur Jambi masuk kategori tenang (0,1 hingga 1,25 meter), ancaman kenaikan permukaan air laut tetap ada.
“Kami imbau warga di wilayah pesisir Timur untuk waspada terhadap potensi banjir rob akibat naiknya air laut,” pungkas Ibnu. (02/IJ)

Tinggalkan Balasan