INIJAMBI – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi memperkenalkan gagasan proyek nasional bertajuk “Gentengisasi” dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026). Program ini menargetkan penggantian atap rumah warga yang berbahan seng menjadi genteng tanah liat atau material komposit.

Dalam pidato arahannya di hadapan ribuan kepala daerah dan unsur Forkopimda, Prabowo menyoroti penggunaan atap seng yang dinilai tidak lagi layak, baik dari segi kenyamanan maupun estetika tata kota dan desa. Menurut Presiden, atap seng menyebabkan suhu di dalam rumah menjadi panas, berbeda dengan rumah tradisional Indonesia terdahulu yang menggunakan rumbia atau ijuk yang sejuk.

Baca Juga :  Ketua DPRD Kabupaten Muaro Jambi Mendampingi Anggota DPR RI H.Bakri

“Kita ingin rakyat kita hidup nyaman. Seng itu panas. Kalau kita lihat dari udara, seng-seng yang berkarat itu merusak pemandangan. Karat itu lambang degenerasi, bukan lambang kebangkitan,” tegas Prabowo dalam pidatonya.

Baca Juga:  Polda Metro Jaya Tetapkan 19 Orang Demonstran Tolak Revisi UU Pilkada Sebagai Tersangka

Presiden menekankan bahwa aspek visual ini sangat krusial bagi sektor pariwisata. Pemandangan atap berkarat dinilai kontradiktif dengan keindahan alam Indonesia yang ingin ditonjolkan kepada wisatawan mancanegara.

Secara teknis, Prabowo menginstruksikan agar pelaksanaan program ini melibatkan Koperasi Merah Putih di tingkat desa. Ia juga menyarankan inovasi bahan baku genteng yang tidak hanya mengandalkan tanah liat murni, tetapi bisa memanfaatkan campuran limbah batu bara atau fly ash.

Baca Juga :  Tim Dilla Dipermalukan, Kandidatnya Langgar Tatib Usai Kedapatan Membuka Handphone Saat Sedang Debat

“Koperasi-koperasi desa kita kasih pabrik genteng. Bisa pakai teknologi campuran tanah dan fly ash, hasilnya kuat tapi ringan,” imbuhnya.

Baca Juga:  Miliki SDM Mumpuni, SPS Mengajukan Untuk Dapat Menjadi Penyelenggara UKW

Merespons arahan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan kesiapan pemerintah untuk mendukung program ini. Airlangga menyebut “Gentengisasi” sebagai low hanging fruit atau langkah cepat yang berdampak langsung pada pembenahan destinasi wisata. Terkait anggaran, Airlangga mengonfirmasi bahwa pembiayaan program ini kemungkinan besar akan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Rakornas 2026 ini menjadi momentum konsolidasi pemerintah pusat dan daerah untuk menyamakan visi pembangunan di tahun kedua pemerintahan, dengan fokus pada peningkatan kualitas hidup masyarakat dan infrastruktur pendukung ekonomi.(*)