INIJAMBI – Di bawah temaram langit senja Jambi, Senin, 10 Maret 2026, suasana di Kantor Eksekutif Daerah WALHI Jambi terasa berbeda. Bukan sekadar rutinitas berbuka puasa, sore itu menjadi saksi sebuah gerakan batin yang besar: Seruan Taubat Ekologi. Di tengah riuh rendah persiapan takjil, ada pesan mendalam yang ingin disampaikan bahwa bumi, layaknya manusia yang berpuasa, butuh waktu untuk “berbuka” dari cengkeraman eksploitasi yang tiada henti.
Halaman kantor sore itu dipenuhi sekitar 100 jiwa dari berbagai latar belakang. Dari aktivis LSM yang gigih, jurnalis yang tajam, hingga masyarakat lokal. Kehadiran Abel GS, Ketua DEMA UIN STS Jambi yang baru terpilih, membawa energi muda yang segar, sementara tawa anak-anak panti asuhan memberikan pengingat lembut tentang masa depan siapa yang sedang kita perjuangkan.
Alam Adalah Cermin Jiwa Membuka acara, Direktur WALHI Jambi, Oscar Anugrah, berbicara dengan nada yang serius namun penuh harapan. Baginya, kerusakan alam saat ini sudah melampaui batas-batas kebijakan teknis. Ini bukan lagi soal regulasi di atas kertas, melainkan soal keselamatan ruang hidup kita.
Pesan ini pun disambut dengan sangat apik oleh Dr. M. Junaidi Habe, M.Si. Melalui tauziahnya, akademisi UIN STS Jambi yang dikenal vokal ini mengajak peserta menyelami akar masalah krisis lingkungan hingga ke relung spiritual. Beliau menegaskan bahwa kerusakan alam (al-fasad fil ardh) sebenarnya adalah pantulan dari rusaknya hati manusia.

“Keserakahan (Tam’a) dan kesombongan (Kibar) telah membutakan kita. Kita sering melihat pohon, air, dan tanah hanya sebagai angka-angka komoditas, lupa bahwa mereka adalah ayat-ayat keagungan Tuhan,” ungkapnya dengan tenang namun menusuk sanubari.
Transformasi Batin Sebagai Kunci Dr. Junaidi menitipkan tiga pesan kunci dalam meniti jalan “Taubat Ekologi”. Pertama, menyadari bahwa eksploitasi adalah bentuk ketidakadilan (Zhulm) yang lahir dari kecintaan berlebih pada dunia. Kedua, memahami bahwa tangan manusia hanyalah eksekutor dari perintah hati yang terdistorsi. Dan ketiga, menekankan bahwa menanam pohon saja tidak cukup jika tidak disertai dengan pembersihan hati dari sifat boros (tabdzir).
Beliau mengajak hadirin untuk menghidupkan rasa muraqabah—perasaan diawasi oleh Sang Pencipta. “Seseorang yang benar-benar bertaubat secara ekologis akan merasa malu menyia-nyiakan air meski tak ada hukum manusia yang melihatnya,” tambahnya.
Berbuka, Berdoa, dan Bergerak Saat azan Magrib berkumandang, suasana berubah menjadi hangat dan penuh kekeluargaan. Doa dipanjatkan tidak hanya untuk mengisi perut yang lapar, tapi juga doa untuk keselamatan bumi dan masyarakat Jambi dari ancaman kerusakan ekologis. Shalat Magrib berjemaah menjadi penutup yang khidmat sebelum diskusi-diskusi kecil berlanjut di sela-sela santapan berbuka.
Melalui momentum Ramadan 1447 H ini, WALHI Jambi mengirimkan pesan kuat ke luar: bahwa menahan lapar dan dahaga hanyalah latihan kecil. Perjuangan yang sebenarnya adalah menahan nafsu eksploitasi demi memberi ruang bagi bumi untuk kembali bernapas. Taubat berarti kembali, dan sore itu, Jambi mencoba kembali ke fitrahnya sebagai penjaga harmoni kehidupan.
Editor : FA

Tinggalkan Balasan